Thursday, July 21, 2011

Suharto adalah diktator yang berhasil

Suharto adalah diktator yang berhasil. Apa boleh buat, dari satu iklim politik yang suka latah seperti sekarang, saya terpaksa mencatatnya begitu. Kepergiannya kemarin diiringi liputan media massa luar biasa, on the spot, menit per menit. Kentara sekali jika obituariumnya telah selesai ditulis, atau direkam, jauh hari sebelum bekas penguasa rezim Orde Baru itu meninggal dunia.


Media massa, meski tak semua, menghadirkan liputan kematiannya bak sebait ode bagi seorang sarat tanda jasa. Satu stasiun televisi bahkan memutar kembali riwayat hidupnya dengan iringan lagu Gugur Bunga. Terkesan pada kita Suharto seperti seorang pahlawan besar yang tamat berlaga di medan perang. Tapi bagi saya, lagu itu justru menyeret ke arah komplikasi sejarah, dan juga hari depan politik Indonesia. Satu momen yang tiba-tiba membuat saya terlempar ke masa sepuluh tahun silam.

Dari sudut sel gelap tempat saya ditahan aparat keamanan Orde Baru, sayup-sayup terdengar lagu Gugur Bunga menyayat. Hari-hari di bulan Mei 1998. Dari radio transistor penjaga sel, telinga saya menangkap berita tiga mahasiswa ditembak mati di Universitas Trisakti. Mereka jadi martir gerakan mahasiswa prodemokrasi dan rakyat yang tak percaya lagi dengan rezim Orde Baru. Saya dan kawan-kawan mahasiswa yang diculik, lalu ditahan itu, yakin inilah orkes pembuka bagi tumbangnya kediktatoran. Sepekan kemudian, Suharto mundur. Lakon Indonesia yang hamil tua itu akhirnya usai. Orde politik baru telah lahir.

Tapi, rupanya perubahan tak selalu menghasilkan kemurnian. Ratusan ribu mahasiswa hari itu bermimpi rakyatlah yang menang. Lalu, pemerintahan baru bisa membawa cita-cita tentang Indonesia yang makmur dan adil, yang bebas represi dari tentara bangsanya sendiri. Demokratis dan bermartabat. Pokoknya semua hal normatif, dan kini terdengar naif. Sepuluh tahun terakhir kita mencatat, bahwa Suharto adalah "sang tak tersentuh". Semangat menumbangkan sang diktator satu dekade silam, kini hampir sama kencangnya dengan gairah merayakannya kembali sebagai pahlawan.

Apa boleh buat. Mimpi reformasi itu pun kini hanya sepertiganya berhasil. Memang, ada kelegaan bahwa politik kini sudah menjadi urusan sipil. TNI dengan besar hati kembali menjadi militer profesional. Pers boleh bebas bicara, dan partai politik tumbuh seperti jamur. Ekonomi relatif lebih baik, meski banyak yang mengigau bahwa zaman Suharto jauh lebih enak. Tak soal. Mungkin mereka dari kaum yang memilih perut kenyang, tapi rela jika bermimpi pun dilarang.

Tetapi, sebagai bekas penguasa satu rezim terpanjang dalam sejarah republik Indonesia--mengalah kan Sukarno pendahulunya, Suharto adalah produser sekaligus produk dari satu tradisi politik yang berbahaya bagi demokrasi. Dia percaya rakyat tak butuh demokrasi, karena pemimpin tahu segalanya. Pancasila dipermak menjadi mantra menghidupkan kembali negara organis gaya fasisme Jepang. Suharto, dengan patrimonialisme yang ditanamkan pada pengikutnya, menjelma menjadi struktur otoriter itu sendiri. Dia tak cukup lagi dilihat sebagai pribadi. Kekuasaan otoriter, oligarki ekonomi bertopang kronisme, tradisi politik asal bapak senang, wadah tunggal, penangkapan kaum oposan dengan brutal, agaknya telah menjadi bagian dari "Suhartoisme" .

Di tengah politik Indonesia yang kian liberal hari ini, ajaran itu mungkin mulai lapuk. Tapi toh, politik liberal itu juga membuat Suharto bisa menutup hari akhirnya dengan lebih terhormat. Nasibnya jelas lebih baik ketimbang koleganya bekas Presiden Filipina Ferdinand Marcos, yang digulingkan people power pada 1986. Hingga ajalnya tiba, Marcos sempat tak diizinkan pulang ke negerinya oleh penguasa baru hasil reformasi politik di sana. Di Korea Selatan, bekas presiden Chun Do Hwan, yang sebetulnya sulit disebut diktator ulung, tapi tersandung kasus korupsi. Dia akhirnya bersedia masuk bui. Chun lalu dikenang sebagai contoh moral politik bertanggungjawab dari bangsa Korea.

Perginya Suharto jelas meninggalkan warisan perkara publik yang belum tuntas. Bahkan, kita merasakan Suhartoisme seperti berdenyut kembali. Ketika dia sedang sakit berat pun, tiba-tiba segelintir elit politik melantunkan koor maaf, minta kejahatan politik dan ekonomi Suharto dihapuskan saja dari benak rakyat. Kita lalu seperti putus asa dengan hukum. Lebih parah lagi, kita lupa bahwa penyelesaian kasus Suharto adalah amanat reformasi, dan telah menjadi satu ketetapan di MPR RI.

Tentu, setelah Suharto pergi, warisan perkara itu menjadi beban negara, keluarganya dan juga masyarakat. Bagi negara, pintu rekonsiliasi bagi masa lalu lenyap sudah, padahal masih banyak perkara korban pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Orde Baru belum lagi tuntas.

Sepatutnya, saat Suharto minta maaf dulu, sewaktu dia turun, penguasa baru membawanya ke pengadilan. Mereka yang menjadi korban politik kejahatan atas kemanusiaan, dari tragedi 1965 sampai kasus Lampung, Aceh, Papua dan banyak lagi, bisa menemukan jawaban pasti secara legal dari negara. Kini, tentu pemerintah menjadi lebih sulit merebut kembali harta yang diselewengkan Suharto melalui berbagai yayasan. Atau mengeduk kembali timbunan uangnya di luar negeri, termasuk mengadili perannya dalam kasus BLBI yang macet itu.

Saya turut bersedih, bukan mengikuti anjuran berkabung nasional selama sepekan itu. Yang menyedihkan adalah kepergian Suharto dengan warisan perkara. Sebagai bangsa seakan kita telah gagal memberi contoh yang baik bagaimana menamatkan sebuah transisi dari rezim otoriter ke demokrasi. Tidak jelasnya status hukum Suharto sampai dia meninggal, adalah tragedi besar bagi reformasi politik dan hukum. Dia sekaligus pendidikan politik buruk bagi generasi penerus, seakan menjadi pemimpin berarti berhak menjadi yang "tak tersentuh".

Apa boleh buat. Suharto adalah diktator yang berhasil. Dia mungkin pergi dengan tenang. Tetapi rakyat yang mencatat kesalahannya, mungkin akan terus memburu keadilan dari siapa pun yang menjadi pewarisnya.

cerita rakyat 1998

Mungkin dengan ada nya era soeharto rakyat semua jadi aman tidak ada preman, pengamen, penculik, tawuran antar pelajar, pembunuhan, curanmor dan tindak kriminal lain
tidak ada satu orang yang berani pada zaman ketika soeharto memerintah
kita tau bahwa dunia kenal indonesia berkat soeharto yang mempunyai hubungan bilateral yang sangat baik dengan negara negara - negara lain
sayang soeharto salah mengartikan kekayaan negara malah di gunakan untuk kepuasan keluarganya.



Sedih liat aksi mahasiswa zama ini tidak sama seperti mahasiswa zaman reformasi kemaren. Cara demo sekarang lebih anarkis dan tujuan nya enggak jelas. Apalagi demo mahasiswa dari Makasar..sangat memalukan tidak beradab dan tidak inteligent seperti orang PRIMITIF. Cara mereka ini lah yg di tiru oleh mahasiswa Indonesia dari daerah lain. Ini yang namanya generasi mahasiswa manusia primitif. Gimana generasi mahasiswa ini akan berbakti ke negara nya akan datang. HANCUR Indonesia oleh mereka nanti.


Panglima Jendral Sudirman menangis. Senjata yang ia gunakan untuk melawan penjajah dan mengusirnya dari tanah air Indonesia justru digunakan oleh aparat dan militer untuk membunuh para kaum intelek yang tidak lain tujuannya untuk membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Bangkit kawan! jangan kita sembunyi ketika supremasi hukum di negara ini telah mati. Tunjukan bahwa MAHASISWA sebagai GARDA TERDEPAN, AGENT OF CHANGE, SOCIAL CONTROL.

Friday, July 15, 2011

Cara Presiden Soekarno Menentukan Keperawanan

Selain dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, serta orator ulung di negeri ini, ternyata Bung Karno memiliki “keahlian” lain. Keahlian yang satu ini agak tabu dibicarakan, yakni ‘cara menentukan keperawanan gadis dari penampilan luar”. Dari buku “In Memoriam” karya Rosihan Anwar, terungkap cara Presiden Soekarno menentukan gadis yang masih perawan. Rosihan Anwar adalah seorang jurnalis yang sudah kritis ketika era pemerintahan Soekarno.


“Tahukah kamu bagaimana cara memastikan apakah seorang gadis pada penglihatan luar masih perawan atau tidak?”tanya Bung Karno.
“Tidak tahu Bung,”Jawab Rosihan Anwar
“Begini… Jika kamu tarik een denkbeeldige recthe li jin (suatu garis imaginer yang lurus) di atas dada si gadis, dari pertengahan lengan yang satu ke lengan yang lain, lalu kamu tentukan pada penglihatan dari luar saja dimana letaknya ujung-ujung payudaranya (pentil), diatas garis atau bawahnya, maka kamu akan bisa berkata, jika dibawah garis dia tidak lagi perawan,tapi jika dia tetap masih perawan.”
Penjelasan : Lengan kita terdiri dua bagian, lengan bagian atas dan lengan bagian bawah. Dan yang dimaksud dengan membagi garis pertengahan adalah garis pertengahan lengan atas. Perkirakan garis tengah antara lengan atas tersebut, lalu tariklah garis khayal antara pertengahan lengan atas lengan kanan ke lengan kiri. Bila garis khayal berada di bawah ‘pentil’ payudara, maka menurut perhitungan Bung Karno, gadis tersebut masih perawan. Namun, bila ‘pentil’ payudara berada di bawah pentil, maka gadis tersebut tidak perawan. (Perhatikan tanda panah gambar di sebelah kiri. Pentil warna hitam berada dibawah garis ‘khayal merah’. Sedangkan gambar kanan garis merah tepat menindih pentil)
Bisa dicoba untuk gadis-gadis yang masih berumuran dibawah 25 atau 30 tahun. Faktor usia akan mempengaruhi turunnya payudara. Zaman sekarang akan sulit menerapkan cara ini terutama bagi wanita-wanita yang menggunakan susuk/silikon dan sejenisnya. Namun bagaimanapun, masih banyak yang tidak digunakan. Maka Anda bisa mencoba gadis yang usianya dibawah 25 tahun.

Cinta Tidak Direstui Orang Tua, Anak Dihamili

Cinta tak direstui orang tua, membuat Agus Nur Wahyudi (19) warga Jalan Taruna 31 Desa Wage Taman nekad menghamili Intan (17) warga Geluran Taman, yang tak lain pacarnya yang masih berstatus siswi kelas 2 SMK.
Akibat perbuatannya ini, membuat Agus harus berurusan dengan polisi, setelah orang tua Intan melaporkanya karena tidak terima anaknya telah hamil 4 bulan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, keduanya berpacaran sejak Februari 2011 lalu. Cinta Agus bersemi saat dirinya duduk di bangku kelas 3 SMK di daerah Medaeng Waru, dan Intan kelas 1 SMK.

Rasa mabuk cinta keduanya menjadikannya sampai diluar batas. Beberapa kali ketemu, Agus Juga sepertinya kerap memaksa Intan untuk diajak berhubungan intim di rumah Agus saat orang tuanya kerja.

Didepan petugas, Agus mengaku tidak bisa menghitung, sudah berapa kali dia melakukan hubungan badan dengan Intan. “Saya tidak ingat sudah berapa kali, saya meniduri Intan,” ujarnya Kamis (14/7/2011)

Agus juga mengaku bila perbuatannya itu dilakukannya, lantaran hubungan cintanya tidak direstui oleh oleh orang tua Intan. “Karena tidak direstui, makanya saya memutuskan untuk menghamilinya agar direstui,” tambahnya.

Perbuatan nista itu terbongkar setelah Kurnia, salah seorang kerabat korban mendapatkan SMS dari Intan yang isinya dia telah hamil empat bulan. Kabar ini membuat kaget orang tua korban. Orang tua korban berniat untuk mendesak Intan. Tapi belum sempat menegur, Intan sudah keburu kabur ke rumah Agus.

Setelah pulang, Intan diantar Agus beserta kedua orang tuanya. Dalam pertemuan itu, pihak keluarga Agus bermaksud meminta maaf sekaligus bertanggung jawab atas apa yang diperbuat anaknya dengan cara menikahkan Agus dengan Intan.

Agus mulanya terpaksa diterima orang tua korban. Setelah mengetahui Agus memiliki sifat tempramental dan sering memukul Intan, akhirnya orang tua korban urung menikahkan dan justru melaporkan ke Polsek Taman.

Kapolsek Taman Kompol Moh Fathoni membenarkan telah mengamankan Agus setelah menerima laporan dari orang tua korban. Meski perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Namun proses hukum berlanjut karena korban masih di bawah umur. "Pelakunya sudah kami tahan," katanya. [beritajatim]

Dua Sekolah Haramkan Hormat Bendera Karena di Anggap Perbuatan Syirik

Dua sekolah di Karang­anyar, Jawa Tengah, menolak prosesi hormat bendera karena menganggap itu

perbuatan syirik yang diharamkan aga­ma. Kedua sekolah ini pun terancam ditutup. Kedua sekolah itu adalah SMP Al Irsyad di Ke­camatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi (SD-IST) Al Albani di Keca­ma­tan Matesih. Keduanya tidak mengadakan upacara bendera di setiap hari Senin, seperti layaknya sekolah lain.Kepala SMP Al Irsyad Ta­wangmangu, Sutardi, menegaskan menghormati benda mati, termasuk bendera, sama hal­nya dengan perbuatan syi­rik.
Gerakan hormat, dia sa­ma­kan dengan gerakan i’tidal dalam salat. “Kalau kami me­laksanakan hormat bendera maka itu merupakan kesyiri­kan kepada Allah SWT dan akan membatalkan sebagai muslim. Kami memang tidak mengajarkan kepada anak di­dik untuk menghormat bendera. Kami hanya berikan salah satu pelajaran akidah ke­pada para siswa tidak perlu memberikan cinta, loyalitas dan penghormatan kepada benda mati. Sebab itu adalah syirik,” ujar Sutardi.
Sedangkan Kepala SD IST Al-Albani Matesih, Heru Ich­wanudin, lebih diplomatis dalam memberikan jawaban. Dia mengatakan secara institusi sekolah tetap menaati atu­ran pemerintah. “Tapi secara personal diserahkan kepada individu masing-masing. Di sekolah kami orang tua dan siswa berasal dari berbagai kalangan. Kami juga tetap mengibarkan bendera merah putih, tapi soal menghormat bendera itu hak masing-masing individu,” ujar Heru.
Tentang keengganan dua sekolah yang tak mau menghormat bendera, juga telah diketahui pemerintah setempat. Bupati Karanganyar, Rina Iriani, mengaku sudah ada la­poran soal dua sekolah di Ta­wang­mangu dan Matesih yang tidak menghormat kepada bendera Merah Putih. “Perlu di­sayangkan sikap pendidik di kedua sekolah tersebut ka­rena menyalahi aturan di Indonesia. Sebab, bendera Merah Putih merupakan simbol NKRI,” ujarnya.
Dibina Saja
2 Sekolah Dasar (SD) di Ka­ranganyar melarang siswa­nya hormat kepada bendera merah putih karena dianggap syirik. Wakil Ketua Komisi III DPR, Tjatur Sapto Edi memin­ta para alim ulama untuk mem­berikan pembinaan dan ber­harap agar sekolah tidak ditutup.
Kepala SMP Al Irsyad Ta­wangmangu, Sutardi, menga­ta­kan menghormati benda mati, termasuk bendera sama halnya dengan perbuatan syirik. Gera­kan hormat, dia samakan dengan gerakan i’tidal dalam salat.

Saturday, July 9, 2011

Guru Ngaji Setubuhi Murid 8 Kali

Sungguh bejat kelakuan Asep Saepuloh bin Saepul Kudus (40). Pria yang sehari-hari mengaku sebagai guru mengaji ini tega menyetubuhi anak didiknya sendiri hingga delapan kali. Korban diketahui berinisial RS (19) warga Kabupaten Bandung Barat.

Kepada petugas yang menginterogasinya Asep mengaku khilaf. Ia pertama kali melakukan aksi bejatnya ini pada 1 Januari 2010 silam.

"Pertama kali saya melakukannya di kobong (asrama santri) Kecamatan Parongpong, saat malam tahun baru kira-kira pukul 02.00 WIB," ujar Asep di Mapolresta Cimahi, Rabu (16/6/2010) sore.

Asep mengaku tak pernah merayu atau mengancam korbannya. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.

Usai menjalankan aksinya, pria yang sudah pernah menikah tiga kali dan memiliki enam orang anak ini membujuk korban agar tidak memberitahukan perbuatannya kepada orang lain, termasuk orangtuanya.

"Setelah saya melakukan pertama kalinya itu, saya kembali melakukannya di rumahnya. Saya mengetuk jendela kamar agar bisa masuk," kata Asep.

Lantaran tak pernah ketahuan, Asep pun melakukannya sampai delapan kali. Terakhir Asep melakukan perbuatan itu pada 2 Juni 2010 sekitar pukul 01.00 WIB dinihari.

Korban sempat meminta pertanggungjawaban tersangka untuk segera menikahinya. Namun tersangka selalu menolaknya. Akhirnya, korban tidak tahan dengan perlakuan tersangka, dan melaporkan kejadian tersebut kepada orangtuanya.

Aksi Asep pun akhirnya berujung penahanan setelah kedua orang tua korban melaporkannya ke Mapolresta Cimahi, Selasa (15/6/2010). Tersangka kemudian digelandang petugas ke Mapolresta Cimahi.

Kasatreskrim Polresta Cimahi AKP Ahmad Zubair mengatakan, korban RS mengaku pasrah dan tidak bisa menolak ajakan Asep untuk melakukan hubungan suami istri, lantaran Asep berstatus sebagai guru mengajinya.

"Jadi memang tidak ada paksaan atau tindak kekerasan yang dilakukan tersangka kepada korban saat mengajak berhubungan intim. Korban mengaku tidak kuasa menolak ajakan tersangka karena dia sebagai guru mengaji," kata Zubair kepada wartawan.