Friday, December 30, 2011

RAMALAN SUKU MAYA 2012



Keterangan itu disampaikan oleh lembaga arkeologi Meksiko. Menurut para arkeolog, mereka telah menemukan prasasti berupa referensi mengenai tanggal terjadinya akhir dunia. Referensi tersebut tertera pada fragmen ukiran dari sebuah reruntuhan prasasti di Meksiko Selatan.







Selama ini, para ahli hanya mengacu pada satu referensi mengenai perkiraan kiamat oleh Suku Maya kuno. Referensi itu adalah sebuah meja batu yang berasal dari situs Tortuguero di teluk pantai Negara bagian Tabasco. Padahal, ada referensi lain yang akan membuat prediksi suku Maya semakin jelas.


Adalah Institut Anthropologi dan Sejarah Nasional Meksiko yang mengeluarkan pernyataan tersebut, dengan mengumumkan referensi kedua yang diperoleh di dekat reruntuhan prasasti Comalcalco. Referensi berupa inskripsi yang diukir pada permukaan cetakan batu bata tua.







Prasasti Comalcalco sendiri merupakan prasasti yang dibangun dekat prasasti Suku Maya kuno, denganbangunan berbahan batu bata. Menurut juru bicara Institut Anthropologi dan Sejarah Nasional Meksiko, Arturo Mendez, fragmen prasasti itu ditemukan tahun lalu dan telah dilakukan penelitian oleh para ahli. Fragmen saat ini tersimpan di ruang penyimpanan institut.


Inskripsi batu bata Comalcalco atau yang lebih dikenal sebagai fragmen kedua almanak Suku Maya kuno itu, sudah ramai diperbincangkan oleh para ahli di forum online. Banyak ahli meragukan apakah inskripsi itu merupakan referensi yang pasti mengenai tanggal akhir dunia yang diprediksi Suku Maya.







Para ahli pendukung referensi kedua ini percaya bahwa kiamat mungkin akan terjadi pada 21 Desember atau 23 Desember 2012.


“Beberapa ahli mengajukan banyak referensi lain dan mengabaikan tentang 2012. Tapi, aku tetap meyakini itu,” ujar David Stuart, spesialis epigrafi Suku Maya di Universitas Texas.


Menurut Stuart, penanggalan yang tertera di batu bata tersebut merupakan lingkaran almanak, suatu kombinasi antara hari dan posisi bulan yang akan berulang setiap 52 tahun. Penanggalan pada bata itu tidak bertepatan dengan akhir Baktun yang ke-13.


Baktun adalah periode 394 tahun dan 13 adalah angka signifikan yang dikeramatkan oleh Suku Maya kuno. Kalender hitungan panjang Suku Maya kuno dimulai tahun 3114 sebelum masehi, dan Baktun berakhir sekitar 21 Desember 2012. Dua fragmen tersebut diperkirakan diukir sekitar 1.300 tahun lalu, dan pada keduanya masih ditemui beberapa bagian yang masih diragukan oleh para ahli.







Prasasti Tortuguero menggambarkan sesuatu yang akan terjadi di bumi pada 2012 yang melibatkan Bolon Yokte, Dewa Suku Maya kuno yang misterius, terkait dengan perang dan penciptaan. Erosi dan adanya banyak celah mengakibatkan beberapa tulisan di bagian akhir batu tidak terbaca. Setelah ditelaah menggunakan mesin canggih, diperkirakan tulisan pada bagian akhir tersebut adalah “Dia akan turun dari langit”.


Batu bata Comalcalco juga sedikit aneh. Cetakan tulisan pada beberapa bagian permukaan bata seperti diletakkan membalik ke dalam, dan sebagian seperti ditutupi dengan perekat yang digunakan pada masa lampau. Diperkirakan, agar tulisan tersebut tidak boleh diketahui oleh orang banyak.

Monday, December 26, 2011

Fenomena Kekerasan Polisi

Polisi selalu identik dengan perangai egois dan semena-mena terhadap masyarakat. Aplagi mencuatnya kasus penembakan terhadap Solikin (seorang guru ngaji di Sidoarjo) hingga meninggal dunia. Polisi selalu menjadi bahan gunjingan masyarakat. Lebih mereka yang seringkali menggunakan jalan raya di perkotaan. Mulai dari asal tilang hingga asal gebuk tanpa pikir panjang.


Belakangan ini pihak kepolisian melalui media selalu menyatakan sikap akan berubah dan menjahui keburukan-keburukan dimasa lalu yang sudah kadung melekat dipikiran masyarakat. Tapi kenyataan dilapangan hal itu tidak berbanding lurus dengan apa yang digembar-gemborkan di media. Kekerasan demi kekeran yang melibatkan pihak kepolisian terus terjadi.

Bergbagai kasus kekerasan yang telah terjadi sebelumnya seakan tak pernah membuat polisi berevaluasi untuk memperbaiki diri. Dimana-mana masih saja terus terjadi kekerasan yang melibatkan pihak kepolisian. Parahnya lagi, hal itu tidak pernah tersentuh hukum. Kasus kekerasan itu hanya dianggap angin lalu. Intinya, masyarakat selalu menjadi korban keangkuhan polisi dan ketidakadilan hukum yang berlaku di Indonesia.

Kasus penimbakan yang dilakukan polisi terhadap guru ngaji (alm. Solikin) benar-benar diluar sifat kemanusiaan polisi yang selama ini berkampanye melindungi masayarakat. Selain tidak mengakui kesalahannya, pihak polisi juga menuduh almarhum melawan polisi dengan celurit. Lalu dimana sifat gentel sang polisi yang selalu membusungkan dada itu??? Tidak ada...!!!

Untuk saat ini, pihak kepolisian (mungkin) akan bersikap dingin terhadap masyarakat. Tapi lihatlah setelah waktu berjalan lagi, satu bulan atau bulan lagi. Kekerasan terhadap masyarakat yang tidak bersalah (sekalipun) oleh pihak polisi akan terulang lagi. Ini mengaca pada kasus-kasus sebelumnya. Polisi selalu bicara akan mengubah sifat-sifat buruknya itu. Tapi kenyatannya apa yang terjadi. Kekerasan demi kekerasan itu terus terjadi, seakan sudah menjadi kebiasaan buruk polisi kita.